Putra sulung kami Muhammad Tauhid Alfarabby, lahir di Payakumbuh 22 Juli 2005. Kini sudah tumbuh menjadi buah hati yang lucu dan menyenangkan hati papa dan bundanya. Tauhid juga sudah punya adik yang cakap dan ganteng, namanya Umar Faruq Rabbany, lahir di Payakumbuh 09 Juni 2007.
Cari Blog Ini
14 Desember 2008
Putra Kami
Gaji PNS Pemko Batam. Wahhhh....
APBD Batam Rp1,2 Triliun
DPRD Kota Batam telah mengesahkan Rancangan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (RAPBD) Kota Batam tahun 2009 menjadi APBD Kota Batam, Jumat (12/12) pekan lalu. Nilai APBD Kota Batam tahun 2009 mencapai Rp1,2 triliun.
Jika dibandingkan dengan APBD Kota Batam tahun 2009 yang besarnya Rp857 miliar, maka dengan demikian terdapat kenaikan Rp300 miliar lebih. Meski kenaikan angka APBD tersebut dominan bukan disebabkan naiknya angka pendapatan asli daerah (PAD) Kota Batam, namun tentunya ini sebuah titik awal yang menggembirakan.
Karena tingginya angka APBD dan banyaknya proyek yang akan dikerjakan Pemko Batam di tahun 2009 ini tentu akan membuka peluang kerja bagi warga Kota Batam di tengah-tengah krisis ekonomi global yang juga ikut mendera perekonomian daerah ini.
Proses pengesahan APBD Kota Batam tahun 2009 oleh DPRD Kota Batam di dalam sidang paripurna DPRD Kota Batam berjalan cukup alot. Ada fraksi yang menolak, ada yang menerima dengan catatan, dan ada juga yang menerima dengan bulat-bulat.
Posting yang menjadi sorotan beberapa fraksi di antaranya adalah posting gaji dan tunjangan pegawai Pemko Batam tahun 2009 yang lebih dari Rp390 miliar. Anggaran tersebut menjadi sorotan karena pada posting lainnya juga ada insentif pegawai dengan nilai juga hampir mencapai Rp100 miliar.
Yang jadi persoalan, karena hampir 40 % APBD Kota Batam dipostingkan untuk gaji, tunjangan dan insentif pegawai. Jumlah APBD yang tersedot untuk pos pengeluaran gaji, tunjangan dan insentif pegawai itu membengkak karena jumlah gaji pokok, tunjangan dan insentif yang diterima para PNS dan pegawai honorer Pemko Batam jumlahnya memang jauh lebih besar besar dibandingkan daerah lain.
Untuk PNS Pemko Batam golongan 2A untuk satu bulan setidaknya menerima gaji (gaji pokok, tunjangan dan insentif) Rp 3 juta. Sedangkan untuk PNS golongan 3A menerima gaji per bulan minimal Rp7 jutaan. Belum lagi jika PNS tersebut memegang jabatan struktural atau eselon. Pendapatan yang mereka terima jauh lebih besar. Contoh, seorang lurah di Kota Batam perbulan menerima gaji Rp10 juta.
Dengan angka-angka yang mencolok itu, pantas saja posting gaji dan tunjangan pegawai Pemko Batam tersebut menjadi sorotan tajam oleh beberapa fraksi di DPRD Kota Batam. Meski fraksi-fraksi DPRD Batam akhirnya menerima dan mengesahkan APBD Kota Batam tahun 2009 setelah melalui lobi-lobi 'win-win' antara keduanya, namun ke depan ini perlu menjadi perhatian atau bahkan ditinjau ulang.
Sebab jika hal ini terus berlangsung setiap tahun, maka perbedaan kesejahteraan antara PNS dengan pekerja sektor swasta akan terus melebar. Sekarang saja ketimpangan tingkat kesejahteraan itu sudah begitu mencolok.
Bandingkan saja PNS tamatan SLTA dengan pangkat/golongan 2A mendapat gaji Rp3 juta. Sedangkan pekerja swasta yang juga tamatan SLTA mendapat gaji sesuai UMK Rp960 ribu plus lembur, paling bergaji Rp1,5 juta. Demikian juga dengan PNS tamatan S1 bergaji Rp7 juta, sementara pekerja sektor swasta yang juga tamatan S1, gajinya hanya sekitar Rp3,5 juta.
Selain persoalan tersebut, dengan disahkannya APBD Kota Batam tahun 2009, semoga saja anggaran sebesar Rp1,2 triliun itu dapat dimanfaatkan secara maksimal. Di tengah-tengah krisis ekonomi global ini Pemko Batam mesti dapat menghilangkan pemborosan. Pembangunan yang dilaksanakan haruslah yang dapat memberikan dampak dan kesejahteraan terhadap masyarakat. Semoga. **
02 Desember 2008
Jendral Judi
Jendral Pembeking Judi
Berita headline pada halaman satu koran ini kemarin memuat tentang dugaan keterlibatan sejumlah jendral polisi di dalam membekingi perjudian di Pekanbaru, Riau beromset Rp3 miliar per hari yang kelola oleh Acin mengejut banyak orang.
Dugaan keterlibatan para jendral itu diungkapkan Inspektur Pengawasan Umum (Irwasum) Polri Komisaris Jenderal Pol Yusuf Manggabarani dan Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Kadiv Propam) Polri Irjen Pol Alantin Simanjuntak serta Kadiv Humas Polri Irjen Pol Abubakar Nataprawira dalam jumpa pers di Markas Polair Polri, Jakarta, Senin (1/12).
Enam perwira tinggi (pati) Polri diduga kuat membekingi judi beromset miliaran rupiah per hari itu sejak 2001-2008. Selain pati, sebanyak 60 perwira menengah (pamen), 46 perwira pertama (pama) dan tujuh bintara disinyalir juga ikut terlibat dalam pembiaran kegiatan judi itu.
Dugaan keterlibatan aparat kepolisian dalam membekingi judi di Riau ini terungkap setelah Polda Riau berhasil membongkar praktek perjudian di Jl Tanjung Datuk, Kecamatan Lima Puluh, Pekanbaru akhir Oktober lalu.
Dalam penggerebekan yang dipimpin langsung Kapolda Riau Brigjen Pol Hadiatmoko itu, polisi menangkap bandar judi bernama Acin dan 26 anak buahnya. Polisi juga menyita dokumen nomor togel hingga mencapai empat karung, uang tunai Rp185 juta dan 250 ringgit Malaysia, komputer dan mesin faksimili.
Jelas saja munculnya dugaan keterlibatan sejumlah pati, pamen, pama serta bintara itu di dalam membekingi kegiatan perjudian terbesar di Sumatera itu mengejutkan semua pihak. Tidak hanya masyarakat Pekanbaru dan Riau, tapi telah bergulir menjadi isu nasional yang sekaligus menjadi tamparan bagi institusi Polri.
Bila dugaan membekingi kegiatan perjudian itu terbukti maka bisa disimpulkan pula bahwa munculnya dugaan selama ini tentang banyaknya oknum aparat yang membekingi kegiatan ilegal logging, penyelundupan dan narkoba juga perlu ditindaklanjuti oleh Kapolri dan jajarannya.
Sementara itu di Ranai, Natuna dua orang oknum anggota polisi tertangkap sedang asik bermain judi dan menggunakan narkoba, saat penggerebekan dilakukan Polres Natuna, Selasa (2/12). Penggerebekan langsung dipimpin Kapolres, AKBP Wiyarso. Selain dua orang oknum polisi, juga tertangkap satu orang oknum TNI serta dua warga sipil laki dan perempuan.
Kelima tersangka yang ditangkap kedapatan sedang bermain judi dan dalam waktu bersamaan juga mengkonsumsi narkoba jenis sabu-sabu di daerah Air Lakon Kelurahan Ranai Kota Kecamatan Bunguran, Ranai Natuna.
Saat penangkapan, ada dua kegiatan dilakukan lima orang tersebut yakni berjudi yang dibuktikan dengan adanya dua set kartu remi serta uang sebesar Rp7,5 juga. Mereka juga sedang mengkonsumsi narkoba dengan barang bukti lima paket kecil sabu-sabu lengkap dengan bong sebagai alat penghisapnya.
Penangkapan dua oknum anggota polisi di Natuna yang sedang berjudi juga menjadi ujian berat bagi polisi di dalam membangun citra positif terhadap institusinya. Semoga saja niat baik dan keberanian Kapolri Jendral Bambang Hendarso Dahuri di dalam mengungkap dan menindak anggotanya yang terlibat kasus perjudian dapat mengangkat citra institusi Polri di masa mendatang. **
Berita headline pada halaman satu koran ini kemarin memuat tentang dugaan keterlibatan sejumlah jendral polisi di dalam membekingi perjudian di Pekanbaru, Riau beromset Rp3 miliar per hari yang kelola oleh Acin mengejut banyak orang.
Dugaan keterlibatan para jendral itu diungkapkan Inspektur Pengawasan Umum (Irwasum) Polri Komisaris Jenderal Pol Yusuf Manggabarani dan Kepala Divisi Profesi dan Pengamanan (Kadiv Propam) Polri Irjen Pol Alantin Simanjuntak serta Kadiv Humas Polri Irjen Pol Abubakar Nataprawira dalam jumpa pers di Markas Polair Polri, Jakarta, Senin (1/12).
Enam perwira tinggi (pati) Polri diduga kuat membekingi judi beromset miliaran rupiah per hari itu sejak 2001-2008. Selain pati, sebanyak 60 perwira menengah (pamen), 46 perwira pertama (pama) dan tujuh bintara disinyalir juga ikut terlibat dalam pembiaran kegiatan judi itu.
Dugaan keterlibatan aparat kepolisian dalam membekingi judi di Riau ini terungkap setelah Polda Riau berhasil membongkar praktek perjudian di Jl Tanjung Datuk, Kecamatan Lima Puluh, Pekanbaru akhir Oktober lalu.
Dalam penggerebekan yang dipimpin langsung Kapolda Riau Brigjen Pol Hadiatmoko itu, polisi menangkap bandar judi bernama Acin dan 26 anak buahnya. Polisi juga menyita dokumen nomor togel hingga mencapai empat karung, uang tunai Rp185 juta dan 250 ringgit Malaysia, komputer dan mesin faksimili.
Jelas saja munculnya dugaan keterlibatan sejumlah pati, pamen, pama serta bintara itu di dalam membekingi kegiatan perjudian terbesar di Sumatera itu mengejutkan semua pihak. Tidak hanya masyarakat Pekanbaru dan Riau, tapi telah bergulir menjadi isu nasional yang sekaligus menjadi tamparan bagi institusi Polri.
Bila dugaan membekingi kegiatan perjudian itu terbukti maka bisa disimpulkan pula bahwa munculnya dugaan selama ini tentang banyaknya oknum aparat yang membekingi kegiatan ilegal logging, penyelundupan dan narkoba juga perlu ditindaklanjuti oleh Kapolri dan jajarannya.
Sementara itu di Ranai, Natuna dua orang oknum anggota polisi tertangkap sedang asik bermain judi dan menggunakan narkoba, saat penggerebekan dilakukan Polres Natuna, Selasa (2/12). Penggerebekan langsung dipimpin Kapolres, AKBP Wiyarso. Selain dua orang oknum polisi, juga tertangkap satu orang oknum TNI serta dua warga sipil laki dan perempuan.
Kelima tersangka yang ditangkap kedapatan sedang bermain judi dan dalam waktu bersamaan juga mengkonsumsi narkoba jenis sabu-sabu di daerah Air Lakon Kelurahan Ranai Kota Kecamatan Bunguran, Ranai Natuna.
Saat penangkapan, ada dua kegiatan dilakukan lima orang tersebut yakni berjudi yang dibuktikan dengan adanya dua set kartu remi serta uang sebesar Rp7,5 juga. Mereka juga sedang mengkonsumsi narkoba dengan barang bukti lima paket kecil sabu-sabu lengkap dengan bong sebagai alat penghisapnya.
Penangkapan dua oknum anggota polisi di Natuna yang sedang berjudi juga menjadi ujian berat bagi polisi di dalam membangun citra positif terhadap institusinya. Semoga saja niat baik dan keberanian Kapolri Jendral Bambang Hendarso Dahuri di dalam mengungkap dan menindak anggotanya yang terlibat kasus perjudian dapat mengangkat citra institusi Polri di masa mendatang. **
Langganan:
Postingan (Atom)