Cari Blog Ini

22 Desember 2008

Pertarungan Konfercab PWI Kepri



Yon Erizon Kalah di Konfercab PWI Kepri

BATAM- Setelah melalui proses pemilihan panjang dan melelahkan, akhirnya Ramon Damora (Pemred Posmetro Batam), terpilih menjadi Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Cabang Provinsi Kepri secara demokratis pada Konfrensi Cabang (Konfercab) ke-2, yang berlangsung di Good Way Hotel, Nagoya, Minggu (21/12).

Ramon Damora mendapat dukungan dari peserta Konfercab PWI dengan memperoleh 34 suara dari 61 orang yang berhak menyalurkan hak pilihnya. H. Marjunis Zen (mantan anggota DKD PWI Kepri) memperoleh 27 suara.

Sedangkan Yon Erizon (Redpel Sijori Mandiri) yang pada proses penjaringan mendapat 8 suara, tidak lagi memperoleh suara. Dalam strategi yang disiapkan Zul Effendi (Pemred Sijori Mandiri/Koordinator Tim Sukses Yon), 17 suara pendukung Yon Cs sepakat dialihkan kepada H Marjunis Zein (modal 14 suara) setelah tim sukses Yon membangun komunikasi dengan Tim Sukses H Marjunis untuk dapat memenangkan Konfercab PWI Kepri tersebut.

Namun 2 dari 17 suara Yon menyimpang (termasuk suara Dedy Suwadha/sahabat Yon yang kini bekerja untuk Tribun Batam). Sedangkan 2 dari 14 suara pendukung H Marjunis Zein juga membelot. Sehingga skor akhir menjadi, Ramon 34 suara, H Marjunis 27 suara dan Yon 0 suara. Sebelumnya telah ada komunikasi PAW jabatan Ketua PWI Cabang Kepri antara H Marjunis dan Yon oleh tim sukses keduanya jika koalisi itu berhasil memenangkan Konfercab. Tapi ternyata Allah SWT berkehendak lain. Target H Marjunis 31 suara dan Ramon 30 suara, kandas.

Sementara Ariffuddin Jalil (Redaktur Posmetro Batam) yang juga lolos pada babak penjaringan mengundurkan diri saat diberikan kesempatan menyampaikan visi dan misi. Pimpinan Sidang Pleno, langsung mengumumkan atas kemenangan Ramon Damora setelah menyingkirkan dua rivalnya.

Pemilihan Ketua PWI Cabang Kepri Kali ini, melalui dua tahap. Pertama dilakukan penjaringan terhadap bakal calon. Dari hasil penjaringan itu, muncul 9 orang nama dengan meraih jumlah suara yang berbeda. Berdasarkan tata tertib (Tatib) pemilihan tercantum dalam pasal 13 ayat 2 mengenai bakal calon, disebutkan bahwa berhak maju untuk tahap berikutnya minimal mendapatkan lima suara dukungan.

Tahap penjaringan kali ini muncul 9 orang kandidat diantaranya, Ramon Damora dengan perolehan 18 suara, H. Marjunis Zen 14 suara di susul, Arifuddin Jalil 10 suara, Yon Erizon 8 suara, M Syahdan (Redaktur Sijori Mandiri) 5 suara.

Empat nama lain tersingkir, karena perolehan suara tidak sesuai dengan Tatib. Mereka diantaranya, Dedy Suwadha (Reporter Tribun Batam) mendapatkan 1 suara, Neon Eric (batal) 1 suara, Amri (Redaktur Sijori Mandiri/mantan Sekretaris PWI Cab Kepri) 2 suara dan Chandra Ibrahim (Wakil Pemimpin Umum Batam Pos dan Pemimpin Umum Batam News) mendapatkan 2 suara.

Setelah melewati tahap penjaringan, pimpinan sidang melakukan verifikasi terhadap nama-nama yang akan maju pada tahap pemilihan berikutnya. Di tahap ini, nama M Syahdan dinyatakan tidak lolos verifikasi karena terganjal masa keanggotaan yang seharusnya minimal 3 tahun menjadi pengurus PWI, sementara M Syahdan keanggotaannya baru 2008. Sehingga pimpinan sidang menyatakan gugur.

Sebelum dilakukan pemilihan secara langsung, umum, bebas dan rahasia, masing-masing bakal calon menyampaikan visi, misi di depan para peserta Konfercab apabila akan terpilih menjadi Ketua PWI Cabang Kepri. Dari lima orang yang lolos menjadi bakal calon, tinggal tiga orang yang akan maju. Dua orang lainnya satu tidak memenuhi syarat menjadi ketua dan satu lagi menyatakan pengunduran diri.

H. Marjunis Zen, Ramon Damora da Yon Erizon secara bergiliran dan diberikan waktu 20 menit guna menyampaikan visi dan misi di hadapan para peserta serta dilanjutkan dengan tanya jawab. Ketiga calon ini sama-sama mengangkat isu akan memperjuangkan kesejahteraan wartawan, apabila terpilih menjadi Ketua PWI pada periode yang akan datang.

Kenfercab PWI Kepri yang berlangsung dari hari Sabtu (20/12) hingga Minggu (21/12) sore itu ditutup oleh Pengurus PWI Pusat Atal Depari. Sebelumnya juga ditandai dengan penyerahan petaka PWI Kepri dari pengurus PWI demisioner kepada Ketua PWI Kepri terpilih Ramon Damora oleh Pengurus PWI Pusat Atal Depari. **

18 Desember 2008

George Bus Dilempar Sepatu



Lemparan Sepatu Al-Zaidi

Peristiwa pelemparan sepatu terhadap Presiden Amerika Serikat (AS) George W Bush oleh wartawan Irak, Muntadhar (Muntazer) Al-Zaidi pada tanggal 14 Desember lalu menjadi perhatian dunia.
Kejadian itu menjadi peristiwa yang sangat memalukan bagi Presiden Bush dan juga negara AS.

Meski akhirnya Al-Zaidi harus ditahan tentara Irak dan hingga kini belum jelas bagaimana kelanjutan nasibnya, namun yang jelas reporter televisi saluran Al-Baghdadia yang bermarkas di Kairo, Mesir itu, dianggap sebagai pahlawan oleh sebagian besar rakyat Irak.

Mayoritas orang arab juga memuji keberanian sang wartawan. Di negara Bush sendiri ada juga kelompok-kelompok aktifis yang menilai lemparan sepatu itu sudah sepantasnya diterima oleh presiden AS yang segera lengser tersebut.

Kini sepatu milik Al-Zaidi menjadi sepatu termahal di dunia. Stasiun televisi CNN dan BBC, Selasa 16 Desember 2008, mengungkapkan bahwa sudah ada beberapa orang yang tertarik untuk membeli sepatu itu. Salah satu yang tertarik adalah direktur teknik tim nasional sepakbola Irak, Adnan Hamad. Dia bersedia merogoh kocek US$100.000 (sekitar Rp 1,1 miliar).

Namun, dia bukan satu-satunya yang tertarik untuk membeli sepatu milik Al-Zaidi. Seorang pengusaha Irak juga berminat dengan menawar harga US$10 juta (sekitar Rp 110 miliar), hanya untuk satu buah sepatu.

Peristiwa pelemparan sepatu oleh wartawan Irak itu merupakan peristiwa terburuk kedua yang menimpa Bush dalam tahun ini. Peristiwa terburuk pertamanya adalah kekalahan bulan November lalu dalam pemilihan Presiden AS dari Barack Obama.

Sedangkan bagi negara AS sendiri, kejadian itu juga menjadi catatan sejarah buruk yang kedua setelah 11 September 2001, Kantor Pusat Pertahan AS Pentagon dan Gedung WTC diledakan oleh teroris dengan menabrakan dua pesawat komersil ke masing-masing gedung tersebut. Ribuan orang tewas dalam serangan teroris yang dituding AS, Osama Bin Laden sebagai otaknya.

Tentu saja AS sangat malu dengan dua kejadian itu. Negara adikuasa yang memiliki persenjataan dan pertahanan keamanan terhebat di dunia, ditambah kecanggihan CIA dan FBI ternyata rapuh dari serangan teroris. Bahkan presidennya sendiri nyaris terkena lemparan sepatu wartawan Irak, Al-Zaidi.

Dari kejadian penyerangan WTC-Pentagon, kekalahan Bush dalam pemilihan AS dan pelemparan sepatu oleh wartawan Irak Al-Zaidi terhadap Bush dapat ditarik sebuah kesimpulan sederhana bahwa kebencian, keserakahan, peperangan tidak akan membawa kedamaian. Justru sebaliknya akan tetap berbuah kebencian dan berujung peperangan pula.

Semoga saja di era kepemimpinan Presiden AS terpilih Barack Obama yang akan dilantik akhir pekan ini akan membawa perubahan terhadap kebijakan politik luar negeri AS. Sehingga AS yang selama ini dianggap sebagai negara penebar perang, akan membawa kedamaian bagi negaranya sendiri dan juga bagi negara lain di dunia. **

16 Desember 2008

Perlu Cara Lain


Turunnya Harga BBM

Pemerintah pada Senin (15/12) pukul 00.00 WIB kembali menurunkan harga premium dari harga Rp5.500 per liter menjadi Rp5.000. Penurunan harga juga diberlakukan untuk solar, dari harga Rp5.500 per liter menjadi Rp4.800. Premium turun Rp500 per liter, sedangkan solar turun Rp700.

Penurunan harga bahan bakar minyak (BBM) jenis premium dan solar bersubsidi tersebut langsung diumumkan oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Kantor Presiden, Jakarta, Minggu (14/12). Penurunan harga minyak itu berdasarkan penyesuaian terhadap harga minyak dunia yang terus melorot.

Sebelumnya pada 1 Desember lalu, pemerintah juga telah menurunkan harga premium bersubsidi dari Rp6.000 menjadi Rp 5.500. Namun ketika itu harga solar tidak mengalami penurunan. Kendati harga premium dan solar bersubsidi telah diturunkan pemerintah, namun tidak pada minyak tanah bersubsidi. Harga minyak tanah bersubsidi masih tetap bercokol pada angka Rp2.500 per liter.

Presiden SBY mengatakan dalam menurunkan harga BBM pemerintah selalu mencermati beban subsidi yang ditanggung APBN. Khusus untuk penurunan harga minyak tanah, hal itu belum bisa dilakukan juga karena mempertimbangkan subsidi.

Menurut Ketua Fraksi PDIP DPR Tjahjo Kumolo, penurunan harga premiun sebetulnya masih bisa ditekan lagi hingga mencapai angka Rp3.570 per-liter. Harga tersebut didasarkan pada harga minyak mentah dunia US$ 43 per barel, nilai tukar rupiah Rp 11.150/$US, alpha 9%, PPN 10%, PBBKB 5%. Sedangkan harga solar idealnya dengan kondisi minyak mentah dunia sekarang ini juga berkisar pada angka Rp3.570 per liter.

Penurunan harga premium dan solar bersubsidi oleh pemerintah, tentunya membawa angin segar bagi gerak nadi perekonomian nasional. Dalam kondisi ekonomi yang sedang dilanda krisis global memang perlu stimulus dan upaya-upaya yang bisa menggairahkan perekonomian nasional.

Secara perlahan dampak positif dari penurunan harga BBM bagi denyut nadi perekonomian di masyarakat akan mulai terasa. Jika pemerintah juga berhasil menekan inflasi, maka dampak krisis global bagi perekonomian nasional dan masyarakat khususnya akan bisa lebih dipersingkat.

Selain menurunkan harga BBM pemerintah dalam kondisi sekarang juga perlu melakukan berbagai langkah, seperti mengantisipasi terjadinya pemutusan hubungan kerja (PHK) besar-besaran oleh perusahaan atau industri yang terkena krisis global. Formulanya tentu bermacam-macam, salah satunya mungkin bisa memberikan insentif pajak dan lainnya terhadap pihak perusahaan.

Pada bagian lain, serikat pekerja dan pengusaha juga perlu duduk bersama dalam menetapkan besaran upah minimum kota/kabupaten (UMK) tahun 2009. Di satu sisi kenaikan UMK dirasakan perlu oleh kalangan pekerja, menyusul naiknya harga berbagai kebutuhan. Sementara, di sisi lain kemampuan pengusaha untuk membayarkan kenaikan UMK berada pada situasi yang dilematis. Pengusaha tengah puyeng dihantam krisis global, orderan menurun drastis sedangkan biaya produksi terus membengkak.

Beranjak dari kondisi itu, maka tidak ada cara lain, selain harus menghadapi dengan cara bersama-sama. Semua elemen masyarakat, pengusaha, pemerintah, pekerja harus berupaya untuk mencarikan solusi. Bukan dengan memaksakan kehendak antara satu dengan yang lainnya. Dan jangan pula menjadikan isu ini sebagai barang dagangan politik untuk kepentingan Pemilu 2009. **